Header Style
Navbar Color

Detail Berita

Image

Latar Belakang

Program Perundingan Perdagangan Bebas yang menjadi program prioritas Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian merupakan suatu program yang diamanatkan oleh RPJMN tahun 2015-2019 untuk menjalin kerja sama di bidang perdagangan, investasi dan industri dengan negara-negara mitra strategis. Pada tahun 2018 telah diselesaikan tiga perundingan perjanjian perdagangan bebas/investasi bilateral. Perundingan pertama adalah Indonesia Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA CEPA) yang dimulai pada tahun 2012. Perundingan kedua yaitu Preferential Trade Agreement Indonesia - Pakistan (IP PTA Protocol to Amend) yang dimulai pada 2017. Sedangkan perundingan ketiga yang baru saja selesai adalah Indonesia – EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EFTA CEPA). Perundingan lain yang dilakukan dan masih dalam proses perundingan dalam kerangka bilateral antara lain, General Review (GR) untuk Indonesia – Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), Indonesia Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA), serta Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dengan Iran, Mozambik, Maroko, dan Tunisia. Penetapan Program Perundingan Perdagangan Bebas yang menjadi program prioritas ini diharapkan memberikan sejumlah manfaat bagi perekonomian Indonesia diantaranya untuk:

§  Memperbaiki posisi tawar dan daya saing di kawasan;

§  Untuk memberikan insentif tambahan untuk mendorong ekspor dan mengundang investasi asing masuk ke Indonesia;

§  Memberikan opsi baru bagi dunia usaha untuk masuk ke pasar non-tradisional


Rencana Kinerja

Program Perundingan Perdagangan Bebas  ini bertujuan untuk mengupayakan peningkatan ekspor melalui pembukaan akses pasar, pemberian insentif investasi dan dukungan kerja sama teknik lainnya.

 

Rencana kinerja yang berisi uraian kegiatan telah ditetapkan menjadi beberapa poin penting sebagai berikut:

§  Selaku ketua delegasi, memimpin perundingan perdagangan bebas;

§  Mengkoordinasikan pemenuhan komitmen liberalisasi perdagangan barang, jasa, investasi dan sektor terkait lain pada berbagai perundingan;

§  Melakukan kajian terhadap potensi pasar-pasar non-tradisional;

§  Bersama dengan Deputi dan K/L terkait melakukan penyesuaian regulasi untuk meng-improve posisi Indonesia dalam perundingan.


Capaian Kinerja

Capaian program prioritas hingga Triwulan III Tahun 2019 dibidang penyelesaian perundingan perdagangan bebas adalah sebagai berikut:

1. General Review Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (GR IJEPA) telah diselesaikan dan diumumkan Juni 2019 pada KTT G20 di Osaka, Jepang. Hasil utama yaitu perluasan akses pasar perdagangan barang. Jepang membuka akses produk pertanian dan perikanan) akses perdagangan jasa, investasi dan peningkatan kerja sama teknis perindustrian dan sektor tenaga kerja;

2. Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK CEPA) telah memasuki perundingan ke-10. Ditargetkan liberalisasi perdagangan barang (92% untuk Indonesia dan 95% untuk Korea), lebih tinggi dari kesepakatan ASEAN Korea FTA. Juga masih dibahas perluasan akses jasa dan investasi serta kerja sama teknis di sektor industri, kesehatan, pertanian, jasa, dan ekonomi kreatif;

3. Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA CEPA) telah ditandatangani pada tanggal 4 Maret 2019 di Jakarta setelah melewati 12 putaran perundingan. Manfaat yang diperoleh dari IA-CEPA diantaranya adalah perluasan akses pasar dan peningkatan daya saing perdagangan barang dan jasa (khususnya sektor ketenagakerjaan), peningkatan investasi dua arah Indonesia-Australia, serta mewujudkan konsep Economic Powerhouse melalui peningkatan kerja sama ekonomi sama yang lebih luas. Saat ini proses ratifikasi diproyeksikan akan selesai pada akhir tahun 2019, sedangkan untuk implementasi IA-CEPA diperkirakan dapat berlaku mulai tahun 2020.

4. Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) telah memasuki perundingan ke-28. RCEP merupakan trading block terbesar di dunia yang meliputi 31% perekonomian dunia dan 29% perdagangan dunia. Ditargetkan tercapainya substantial conclusion pada akhir tahun 2019. 7 Bab telah diselesaikan sedangkan perundingan untuk Bab lainnya (termasuk perdagangan barang, jasa dan investasi) akan terus diintensifkan.

5. Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC CEPA) mencapai kesepakatan perundingan pada tanggal 6-10 November 2017 setelah diinisiasi pada tahun 2014, dan ditandatangani pada 14 Desember 2017 di Chile. Pertukaran Instrument of Ratification (IoR) dilakukan pada 11 Juni 2019 di Jakarta, dan berlaku (enam puluh) hari setelah pertukaran IoR, yaitu 10 Agustus 2019. Perundingan IC-CEPA dilakukan secara bertahap (incremental approach) di mana perundingan barang (Trade in Goods - TIGs) dilakukan terlebih dahulu. Struktur tarif Chile dalam IC CEPA rata-rata sebesar 6% dan sebanyak 89,6% dari total pos tarif Chile dihapuskan, sehingga dapat dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan ekspor. Industri-industri di Indonesia juga dapat menambah sumber bahan baku dengan tarif 0%. Di samping itu, Chile dapat dimanfaatkan sebagai hub bagi Produk Ekspor Indonesia, karena Chile memiliki tingkat liberalisasi perdagangan yang tinggi di kawasan Amerika Latin dan Pasifik, serta merupakan anggota dari MERCOSUR, Aliansi Pasifik dan Trans Pacific Partnership (TPP). Perundingan Perdagangan Jasa, Investasi dan area lainnya akan dilakukan pada tahap selanjutnya yang disepakati kedua negara.

6. Perundingan Indonesia-European Free Trade Association (EFTA) CEPA telah ditandatangani pada 16 Desember 2018 dan saat ini sedang dalam proses ratifikasi. Perundingan telah berlangsung selama delapan tahun dengan 15 putaran. Hasil simulasi Cost Benefit IE CEPA menunjukkan hasil yang berkorelasi antara kenaikan output dan nilai perdagangan di beberapa sektor bagi Indonesia, antara lain meat product, wearing apparel dan textiles. Beberapa sektor lain yang diprediksi akan mengalami kenaikan ekspor Indonesia ke EFTA antara lain sektor mesin, kimia/karet, logam, alat transportasi dan produk makanan. IE-CEPA juga akan berdampak pada peningkatkan GDP Indonesia sebesar 1,8%.

7. Perundingan Indonesia-European Union (EU) CEPA dimulai pada tahun 2016 dan saat ini memasuki putaran ke-9. Potensi perundingan I-EU CEPA bagi Indonesia antara lain kenaikan PDB dalam jangka pendek di kisaran 1,3% atau senilai 6,8 juta Euro (berdasarkan perkiraan pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2010). Secara jangka panjang, neraca perdagangan Indonesia juga secara umum akan meningkat sebanyak US$2 miliar. Perundingan juga diprediksi memberikan dampak pertumbuhan ekonomi sebesar 2% dalam jangka pendek dan menengah (2016-2020) serta pertumbuhan investasi asing (PMA) lebih dari 4% ke Indonesia pada tahun 2030 (dibandingkan dengan simulasi situasi tahun 2030 tanpa FTA).

8. Indonesia-Turki Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT CEPA) telah memasuki putaran ke-4 dan dimulai pada bulan Juli 2017. Perundingan dilakukan secara bertahap diawali dengan perdagangan barang dan akan dilanjutkan dengan chapter-chapter lainnya (incremental). Hasil kajian Joint Study Group (JSG) menunjukkan bahwa apabila kedua negara sepakat untuk mengurangi tarif secara langsung setelah kesepakatan ditandatangani, maka Indonesia akan menikmati peningkatan dalam GDP sebesar 0,002%, peningkatan welfare sebesar 36,153%, peningkatan ekspor ke Turki sebesar 0,047% dan peningkatan impor dari Turki sebesar 0,097%. 




Navigation