Header Style
Navbar Color

Detail Berita

Image

Latar Belakang

Program Mandatori B20 adalah program pemerintah untuk mewajibkan pencampuran 20% Biodiesel dengan 80% bahan bakar minyak jenis Solar. Melalui optimalisasi dan perluasan pemanfaatan B20 ini, diperkirakan akan menghemat devisa dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional. Standar dan mutu (spesifikasi) B20 harus memenuhi Keputusan Direktur Jenderal Migas No. 28.K/10/DJM.T/2016 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi No. 3675.K/24/DJM/2006 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Solar yang Dipasarkan di Dalam Negeri. Berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 12 tahun 2015 tentang tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri ESDM No. 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.

Melalui optimalisasi dan perluasan pemanfaatan B20 ini, diperkirakan akan terdapat penghematan devisa mencapai sekitar USD 3 miliar, dan hal ini tentunya akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional. Kelebihan dari Penggunaan biodiesel adalah sifatnya yang terbarukan sehingga dapat diproduksi berulang kali, berorientasi pada sumber daya domestik dan kadar emisinya lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar dari fosil.


Rencana Kinerja


Target Kinerja

Adapun target dan rencana kegiatan tahun 2019 adalah :

1.    Melakukan Koordinasi dan Monitoring pelaksanaan target yang telah ditetapkan oleh Pemerintah yakni alokasi FAME sebesar 6.197.101 KL, dengan BU BBN penyalur FAME sebanyak 19 BU dan BU BBM penerima FAME serta penyalur B20 sebanyak 18 BU.

 

2.    Alokasi dari PT. Pertamina sebesar 5.304.251 KL dan akan didistribusikan ke 29 titik serah. Lima titik serah penerima alokasi terbesar di PT Pertamina adalah di Balikpapan Group (18,5%), Surabaya (8,6%), Plaju/Panjang (8,1%), Jakarta Group (7,3%), dan Tj. Uban (6,0%). Sisa sebesar 51,4% disalurkan ke 24 titik serah.

 

3.    Penyederhanaan logistik untuk penyaluran FAME di PT. Pertamina dari semula 112 titik serah menjadi 29 titik serah.

4.    Penerima FAME dan penyalur B20 terbesar, yaitu titik serah Balikpapan Group, akan menggunakan Floating Storage (FS) dengan menggunakan mekanisme Ship-to-Ship (STS), yang kemudian akan menyalurkan B20 ke lokasi-lokasi di Kawasan Timur Indonesia.


Capaian Kinerja

Program Mandatori B20 adalah program pemerintah untuk mewajibkan pencampuran 20% FAME (fatty acid methyl ester) dengan 80% bahan bakar minyak jenis Solar. Melalui optimalisasi dan perluasan pemanfaatan B20 ini, diperkirakan akan menghemat devisa dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional. Pemanfaatan iodiesel telah dimulai tahun 2009 dengan pencampuran FAME 2-7,5 % yang selanjutnya pada tahun 2016 ditingkatkan menjadi 20% untuk PSO. Pada tahun 2018 dilakukan perluasan mandatori Biodiesel 20% untuk Non-PSO] .Perkembangan Produksi dan Pemanfaatan Biodiesel sejak 2009 s.d. Semester I Tahun 2019 adalah sebagai berikut:


 

q  Indeks Keberhasilan Pelaksanaan B20 bulan  Agustus 2019 mencapai 98,6%.

 


q  Alokasi Semula = 6.197.101 kL;  Alokasi Perubahan = 6.627.900 KL


q  Volume FAME yang tersalurkan Januari s/d 31 Agustus 2019 adalah 4.055,473 KL dari Total Alokasi 2019 sebesar 6.627.900 kL, dan Sisa Alokasi = 2.572.427 KL.


q  Penyaluran FAME sampai bulan  September 2019  oleh PT. Pertamina menggunakan pola 29 titik pencampuran.


q  Data realisasi untuk Purchase Order bulan Agustus terdapat BU BBN yang realisasi masih di bawah < 80% dari PO, ini disebabkan karena PO yang dikeluarkan oleh PT. Pertamina dengan volume yang besar, namun penyerapannya rendah - TBBM Surabaya (64% dari PO).


q  Total Penyaluran B0 non relaksasi selama periode Jan-Agustus 2019 sebesar 428.421 kL (keterlambatan FAME 85.684 KL).



q  Volume FAME yang menyebabkan terjadinya B0 sebesar 2% dari total volume FAME yang telah disalurkan ke BU BBM.

 

 

 

q  Feasibility Study B100 telah selesai.







Navigation